Keistimewaan Solat Tarawih

KEISTIMEWAAN SOLAT TARAWUH

Hadits diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib R.A, suatu hari Rasullullah SAW ditanya oleh sahabatnya, tentang keistimewaan shalat tarawih pada bulan Ramadan. Maka Rasullullah SAW bersabda;

  1. Pada malam kesatu, Orang mukmin keluar dari dosanya pada malam pertama, seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.
  2. Pada malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.
  3. Pada malam ketiga, seorang malaikat berseru dibawah ‘Arsy: “Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lewat.”
  4. Pada malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Furqan (Al-Quran).
  5. Pada malam kelima, Allah Ta’ala memeberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di Masjidil Haram, masjid Madinah dan Masjidil Aqsha. Baca lebih lanjut

Ajisaka dan Aksara Jawa

            Lagi jaman kuno ana wong Hindu masih nonoman jenenge Ajisaka. Ajisaka kagungan abdi papat kang jeneng Duduga, Prayoga, Dora lan Sembada.

            Anuju sawijining dina Ajisaka ndangu mring abdine mau. He! Duduga,Prayoga < Dora lan sembada, ayo sakiyen padha mangkat ning tanah Jawa, perlu arep mencaraken kawruhku. Nuwun inggih sandika gusti.

            Bareng tekan pulo Majeti padha leren sedela,kanggo ngilangaken pegele. Ora suwe Ajisaka ngandika.

            Pangandikane mengkenen : “he! Dora lan Sembada”, sira wong loro kariya ananing pulo majeti, dene aku karo Duga lan prayoga arep njujug ning Negara Mendang Kamolan. Poma sira wong loro aja lunga-lunga sing pulo Majeti yen dhurung ana timbalan ingsun.Enya si Sembada tampanana keris pusaka wesi aji,poma keris iki aja koulungaken ning sapa-sapa yen dudu aku dhewek kang mundhut. Nuwun inggih sandika gusti. Ayo Duga lan Prayoga pada mangkat ning dina iki!Nuwun inggih sandika gusti

Baca lebih lanjut

Keterkaitan Budaya Dan Kepribadian Terhadap Watak Yang Lemah

KETERKAITAN BUDAYA DAN KEPRIBADIAN

TERHADAP WATAK YANG LEMAH

 Oleh:

Anies Andriyati Devi

1715097810

BK Non Reg 2009

 BIMBINGAN KONSELING

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA


 BAB I

PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang

Membicarakan manusia Indonesia berarti membicarakan masyarakat Indonesia. Gambaran umum masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk atau pluralistis. Kemajemukan masyarakat dapat dilihat dari perbedaan etnis, bahasa daerah, agama, dan geografis maupun dari perbedaan tingkat pendidikan, ekonomi dan tingkat sosial budaya. Manusia Indonesia yang diinginkan adalah manusia seutuhnya dan manusia yang kuat serta tidak mudah terpengaruh atau mampu mandiri dalam arti mampu melakukan sosialisasi namun tidak sepenuhnya takluk terhadap orang lain.

Manusia Indonesia mengidap mentalitas yang lemah, yaitu konsepsi atau pandangan dan sikap mental terhadap lingkungan yang sudah lama mengendap dalam alam pikiran masyarakat, karena terpengaruh atau bersumber kepada sistem nilai budaya (culture value system) sejak beberapa generasi yang lalu, dan yang baru timbul sejak zaman revolusi yang tidak bersumber dari sistem nilai budaya pribumi. Artinya, kelemahan mentalitas manusia Indonesia diakibatkan oleh dua hal yaitu karena sistem nilai budaya negatif yang berasal dari bangsa sendiri dan dari luar akibat dari penjajahan bangsa lain. Kelemahan mentalitas manusia Indonesia, diantaranya: (1) sifat mentalitas yang meremehkan mutu; (2) sifat mentalitas yang suka menerabas; (3) sifat tak percaya kepada diri sendiri; (4) sifat tak berdisiplin murni; (5) sifat mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh (Koentjaraningrat, 2004).

Baca lebih lanjut

Pentingnya Sikap Empati Budaya Dalam Keefektifan Konseling

Pentingnya Sikap Empati Budaya
Dalam Keefektifan Konseling

Oleh:

Anies Andriyati Devi

1715097810

BK Non Reg 2009

BIMBINGAN KONSELING

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2012

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Empati budaya dalam konseling merupakan hal yang sangat penting. Mengingat proses konseling merupakan sebuah bantuan melalui interaksi antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya. Salah satu masalah yang sering muncul adalah kurangnya rasa empati dalam berkomunikasi yang bisa menyebabkan kesalahpahaman interaksi komunikasi sehingga konseli frustasi dan tidak ada manfaat yang dihasilkan dari proses konseling tersebut.

Di pihak lain, empati justru dianggap sebagai salah satu cara yang efektif dalam usaha mengenali, memahami, dan mengevaluasi orang lain karena dimungkinkan seseorang itu masuk dan menjadi sama dengan orang lain. Dengan berempati, seseorang bisa benar-benar merasakan dan menghayati orang lain termasuk bagaimana seseorang mengamati dan menghadapi masalah dan keadaannya yang susai dengan budayanya.

Kehidupan konseli merupakan rahasia yang sulit untuk ditembus. Bahkan keadaannya begitu berlapis. Konseli yang kita hadapi sering tampil hanya dipermalukan saja, dan jarang menampilkan dunia dalam mereka. Kecuali terhadap orang yang sangat dipercayai. Orang yang dipercayai oleh konseli adalah yang memahami dan dapat merasakan perasaan, pengalaman, serta pikiran klien. Konselor yang empati mudah memasuki ”dunia dalam” konseli sehingga konseli tersentuh dengan sikap konselor.

Baca lebih lanjut

Perempuan, Peran dan Tanggung Jawab

PEREMPUAN, PERAN DAN TANGGUNG JAWAB

Ketika menilik informasi dunia saat ini kita akan disuguhi oleh berbagai berita yang aneh dan terkadang menyakitkan. Misalnya diberitakan tentang seorang anak gadis berusia 10 tahun yang terbang dari India ke Arab Saudi dengan ditemani pria berusia 60 tahun yang telah membeli anak tersebut dari kedua orang tuanya untuk dinikah secara paksa. Atau berita tentang wanita Amerika yang selalu dianiya oleh suaminya sendiri karena menghubungi keluarga atau temannya. Anda mungkin juga tersentak mendengar nasib seorang perempuan muda berusia 22 tahun dan keponakannya yang berusia 11 tahun yang ditangkap oleh tentara Myanmar karena melanggar jam malam lalu diperkosa beramai-ramai oleh komandan pos tentara bersama sejumlah anak buahnya.

Berita-berita tersebut dan yang serupa dengannya sudah sering kita dengar. Menyakitkan, karena bukan terjadi satu atau dua kali. Kekejaman dan perbuatan biadab terhadap kaum hawa terjadi hampir setiap hari dan di seluruh dunia. Dalam beberapa dekade terakhir, dunia Barat dengan mengusung slogan hak-hak perempuan melakukan berbagai langkah yang kesannya memberikan kehormatan dan harga diri kepada kaum hawa serta mengijinkan mereka mengguluti aktivitas sosial. Namun pada kenyataannya, resep yang diberikan pada Barat hanya tidak mengentaskan kaum perempuan dari kesulitan tetapi malah menambah masalah.

Masalah perempuan dan problematikanya tidak akan teratasi dengan hanya mengulas dan membahasnya. Tetapi diperlukan langkah nyata yang didasari pada penghormatan perempuan sebagai manusia. Jelas, jika hak-hak dan kedudukan perempuan dipahami dengan benar, masalah mereka juga bisa teratasi. Barat sering kali terjebak kekeliruan dalam memandang perempuan. Di saat Barat mendorong kaum perempuan untuk terjun ke lapangan kerja dan aktivitas sosial, di saat yang sama dibuka pula peluang untuk terjadinya penyimpangan di tengah masyarakat.

Barat telah melakukan pengkhianatan kepada kemanusiaan khususnya pada kaum perempuan. Menyeret perempuan dan laki-laki kepada penyimpangan moral, mengumbar hawa nafsu di tengah masyarakat dan memamerkan perempuan dengan hiasannya ke tengah medan adalah pengkhianatan. Perempuan adalah bagian kemanusiaan yang indah dan lembut, yang secara naluriah cenderung menutup diri dan menjaga kehormatan. Keistimewaan ini ada pada sisi indah dan lembut kemanusiaan ini.

Dalam budaya Barat, perempuan telah dijauhkan dari kodratnya dan didorong untuk bersaing dengan kaum pria yang secara fisik maupun mental berbeda dengannya. Akibatnya, perempuan kehilangan jatidiri dan melupakan tugas yang sesuai dengan potensi fisik dan mental bawaannya.

Baca lebih lanjut