Perempuan, Peran dan Tanggung Jawab


PEREMPUAN, PERAN DAN TANGGUNG JAWAB

Ketika menilik informasi dunia saat ini kita akan disuguhi oleh berbagai berita yang aneh dan terkadang menyakitkan. Misalnya diberitakan tentang seorang anak gadis berusia 10 tahun yang terbang dari India ke Arab Saudi dengan ditemani pria berusia 60 tahun yang telah membeli anak tersebut dari kedua orang tuanya untuk dinikah secara paksa. Atau berita tentang wanita Amerika yang selalu dianiya oleh suaminya sendiri karena menghubungi keluarga atau temannya. Anda mungkin juga tersentak mendengar nasib seorang perempuan muda berusia 22 tahun dan keponakannya yang berusia 11 tahun yang ditangkap oleh tentara Myanmar karena melanggar jam malam lalu diperkosa beramai-ramai oleh komandan pos tentara bersama sejumlah anak buahnya.

Berita-berita tersebut dan yang serupa dengannya sudah sering kita dengar. Menyakitkan, karena bukan terjadi satu atau dua kali. Kekejaman dan perbuatan biadab terhadap kaum hawa terjadi hampir setiap hari dan di seluruh dunia. Dalam beberapa dekade terakhir, dunia Barat dengan mengusung slogan hak-hak perempuan melakukan berbagai langkah yang kesannya memberikan kehormatan dan harga diri kepada kaum hawa serta mengijinkan mereka mengguluti aktivitas sosial. Namun pada kenyataannya, resep yang diberikan pada Barat hanya tidak mengentaskan kaum perempuan dari kesulitan tetapi malah menambah masalah.

Masalah perempuan dan problematikanya tidak akan teratasi dengan hanya mengulas dan membahasnya. Tetapi diperlukan langkah nyata yang didasari pada penghormatan perempuan sebagai manusia. Jelas, jika hak-hak dan kedudukan perempuan dipahami dengan benar, masalah mereka juga bisa teratasi. Barat sering kali terjebak kekeliruan dalam memandang perempuan. Di saat Barat mendorong kaum perempuan untuk terjun ke lapangan kerja dan aktivitas sosial, di saat yang sama dibuka pula peluang untuk terjadinya penyimpangan di tengah masyarakat.

Barat telah melakukan pengkhianatan kepada kemanusiaan khususnya pada kaum perempuan. Menyeret perempuan dan laki-laki kepada penyimpangan moral, mengumbar hawa nafsu di tengah masyarakat dan memamerkan perempuan dengan hiasannya ke tengah medan adalah pengkhianatan. Perempuan adalah bagian kemanusiaan yang indah dan lembut, yang secara naluriah cenderung menutup diri dan menjaga kehormatan. Keistimewaan ini ada pada sisi indah dan lembut kemanusiaan ini.

Dalam budaya Barat, perempuan telah dijauhkan dari kodratnya dan didorong untuk bersaing dengan kaum pria yang secara fisik maupun mental berbeda dengannya. Akibatnya, perempuan kehilangan jatidiri dan melupakan tugas yang sesuai dengan potensi fisik dan mental bawaannya.

Bukan hal yang perlu dibanggakan jika perempuan meniru pekerjaan kaum pria. Saat ini ada tangan-tangan mencurigakan yang menyebarkan budaya anti moral di dunia dan memaksa perempuan untuk bertindak layaknya laki-laki lalu mempersoalkan mengapa kalian menyebut perempuan dan pria dengan sebutan pria? Bukankah demikian? Apakah lantas kalian ingin menyebut perempuan laki-laki paslu atau duplikat pria yang kedua? Apakah ini yang disebut sebagai kebanggaan bagi perempuan? Kebanggaan adalah perempuan sebagai perempuan.

Perempuan adalah bagian dari ciptaan Allah yang indah. Dari sini ini, ia tidak berbeda dengan jenis laki-laki yang bergerak menuju kepada kesempurnaan insani. Islam meyakini bahwa perempuan di masyarakat yang sehat harus dibekali kemampuan yang selayaknya dan diberi peluang untuk memegang tanggung jawab dan ambil bagian dalam membantu kemajuan sains, sosial, pembangunan dan kepemimpinan dunia. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Manusia, tanpa memandang gender, diciptakan untuk melangkah kepada kesempurnaan insani dan menghias diri dengan kemuliaan dan sifat-sifat terpuji. Fatimah az-Zahra (Qurrota’aini ar Rasul) adalah wanita teladan sepanjang sejarah kemanusiaan.

Kitab suci al-Qur’an ketika menyifati manusia-manusia yang baik dan buruk membawa cotoh dua macam perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam ingin meluruskan pemahaman yang keiru tentang perempuan dan menjelaskan kedudukan kemanusiaan perempuan yang sebenarnya. Islam menginginkan perkembangan pemikiran, keilmuan, social, politik dan lebih penting dari itu adalah perkembangan kemuliaan spiritual bagi kaum hawa sampai ke derajat tertinggi. Eksistensi perempuan membawa manfaat yang sangat besar bagi keluarga dan mayarakat menanusiaan.

Harus ada perbedaan antara posisi perempuan disektor ilmiah, budaya, social dan penurunan posisinya hingga untuk kepentingan politik dan individu. Namun jika masalah kehormatan kaum perempua dijaga, hal tersebut akan menjadi landasan yang kokoh dalam perkembangan mereka tanpa harus kehilangan identitas sebagai perempuan dan peran mereka sebagai pembimbing. Dalam perspektif Islam, tidak ada pihak lain yang dapat menggantikan posisi perempuan sebagai ibu dan istri. Kelanggengan manusia dan perkembangan potensinya sangat berkaitan erat dengan kasih sayang dan pengorbanan ibu. Dengan kasih sayang ibu-lah yang merubah riak gelombang kehidupan menjadi ketenangan dan ketentraman dalam lingkungan keluarga.

Kaum perempuan denan tetap menjaga peran mereka sebagai pembimbing dan ibu, masuk ke berbagai sector social. Peningkatan relative para cendikiawan, peneliti dan pengajar perempuan di berbagai cabang ilmu, membuktikan keberhasilan persepektif Islam terhadap perempuan. Poin pentingnya adalah bahwa dewasa ini dalam Islam muncul banyak perempuan-perempuan genius yang aktif di bidang pemikiran, ilmiah, juga para pengamat di bidang budaya dan seni. Padahal mereka juga tetap mengenakan hijab, di Negara Islam Iran contohnya. Masalah ini merupakan perbandingan terhadap pendapat sejumlah pihak bahwa hijab bertentangan dengan kesempurnaan.

Keberhasilan ini merupakan imbas dari perhatian mereka terhadap nilai-nilai etika, spiritualitas dan kesucian, dalam aktivitas mereka sehari-hari. Perbatasan yang ada dalam syariat Islam tidak bertentangan dengan fitrah dan kriteria perempuan, karena pada dasarnya tidak layak disebut sebagai pembatasan. Aturan syariat tersebut juga terjadi pada kaum laki-laki dalam bentuk yang berbeda. Hal ini membabtu mencegah penyia-nyiaan tenaga kaum laki-laki dan perempuan.
Karenanya bagi para cendekiawan perempuan di mana pun berada, anda adalah pemikul tanggung jawab yang cukup berat yaitu membenarkan perspektif tentang laki-laki dan perempuan yang berupaya ditebar oleh Barat, sebab perspektif semacam itu akan menghancurkan tatanan sosial masyarakat.

By: Komunitas Studi Gender SEKAR LUHUR Yogyakarta
CP: Durrotul Mawahib : 081392972185

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s