Keterkaitan Budaya Dan Kepribadian Terhadap Watak Yang Lemah


KETERKAITAN BUDAYA DAN KEPRIBADIAN

TERHADAP WATAK YANG LEMAH

 Oleh:

Anies Andriyati Devi

1715097810

BK Non Reg 2009

 BIMBINGAN KONSELING

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA


 BAB I

PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang

Membicarakan manusia Indonesia berarti membicarakan masyarakat Indonesia. Gambaran umum masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk atau pluralistis. Kemajemukan masyarakat dapat dilihat dari perbedaan etnis, bahasa daerah, agama, dan geografis maupun dari perbedaan tingkat pendidikan, ekonomi dan tingkat sosial budaya. Manusia Indonesia yang diinginkan adalah manusia seutuhnya dan manusia yang kuat serta tidak mudah terpengaruh atau mampu mandiri dalam arti mampu melakukan sosialisasi namun tidak sepenuhnya takluk terhadap orang lain.

Manusia Indonesia mengidap mentalitas yang lemah, yaitu konsepsi atau pandangan dan sikap mental terhadap lingkungan yang sudah lama mengendap dalam alam pikiran masyarakat, karena terpengaruh atau bersumber kepada sistem nilai budaya (culture value system) sejak beberapa generasi yang lalu, dan yang baru timbul sejak zaman revolusi yang tidak bersumber dari sistem nilai budaya pribumi. Artinya, kelemahan mentalitas manusia Indonesia diakibatkan oleh dua hal yaitu karena sistem nilai budaya negatif yang berasal dari bangsa sendiri dan dari luar akibat dari penjajahan bangsa lain. Kelemahan mentalitas manusia Indonesia, diantaranya: (1) sifat mentalitas yang meremehkan mutu; (2) sifat mentalitas yang suka menerabas; (3) sifat tak percaya kepada diri sendiri; (4) sifat tak berdisiplin murni; (5) sifat mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh (Koentjaraningrat, 2004).

Jadi, sebenarnya sumber persoalan buruknya kualitas manusia Indonesia adalah adanya kepribadian yang kurang baik dan system nilai budaya yang negatif  bisa dikarenakan akibat penjajahan yang sangat lama yang dialami bangsa Indonesia. Sistem nilai budaya itu dihidupi dan dikembangkan oleh manusia, yang menjadi subyek atas perilaku dan tindakannya. Sedangkan untuk membangkitkan mental dan watak negara terjajah adalah dengan banyak belajar kepada negara-negara lain yang telah maju, sehingga termotivasi untuk meningkatkan kepribadiannya ke arah yang lebih baik.

1.2.  Identifikasi Masalah

1.2.1.      Kebudayaan seperti apa yang menyebabkan seseorang berwatak lemah?

1.2.2.      Apakah kepribadian yang lemah dapat mempengaruhi watak yang lemah?

1.2.3.      Bagaimana keterkaitan budaya dan kepribadian terhadap watak yang lemah?

1.2.4.      Bagaimana gambaran seseorang yang berwatak lemah?

1.2.5.      Apakah terdapat perbedaan orang yang berwatak lemah pada masing-masing budaya?

1.2.6.      Pendekatan apa yang bisa digunakan untuk merubah watak yang lemah?

1.3.  Pembatasan Masalah

Dari berbagai permasalahan yang muncul, penulis membatasi permasalahan mengenai “Keterkaitan budaya dan kepribadian terhadap watak yang lemah”.

1.4.  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, selanjutnya masalah dalam penulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut, yaitu: Bagaimana keterkaitan budaya dan kepribadian terhadap watak yang lemah?

1.5.  Tujuan dan Manfaat Hasil Makalah

1.5.1.      Tujuan Hasil Makalah

Secara umum makalah ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keterkaitan budaya dan kepribadian terhadap watak yang lemah.

1.5.2.      Manfaat Hasil Makalah

  1. Secara Teoritis

Secara teoritis hasil makalah ini akan memberikan kontribusi sehingga bisa memperkuat teori yang ada, menyajikan informasi mengenai pengaruh budaya dan kepribadian terhadap watak yang lemah.

  1. Secara Praktis

Secara praktis hasil makalah ini bisa dipakai untuk memahami diri sendiri dan orang yang berwatak lemah, agar kita tahu bagaimana cara yang baik dalam menghadapi seseorang yang berwatak lemah.

BAB II

KERANGKA TEORITIS

  1. Budaya
    1. Pengertian Budaya

Dalam (Tylor , 1871 dalam  Berry, dkk., 1999) budaya merupakan keseluruhan kompleks yang terdiri dari pengetahuan, keyakinan, seni, moral, hukum, adat kebiasaan, dan kapabilitas lain, serta kebiasaan apa saja yang diperoleh seseorang manusia sebagai anggota suatu masyarakat. Linton, 1936 dalam  Berry, dkk., 1999) menyatakan, budaya berarti keseluruhan bawaan social umat manusia. Herkovits, 1948 dalam  Berry, dkk., 1999)  mengatakan, budaya ialah bagian buatan manusia yang berasal dari lingkungan manusia.

Jadi, Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat dan tidak hanya mengenai sebagian tata cara hidup saja  yang dianggap lebih tinggi dan lebih diinginkan”. kebudayaan menunjuk pada berbagai aspek kehidupan. Istilah ini meliputi cara-cara berlaku, kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu (Sanggenafa, 2002).

  1. Kebudayaan Diperoleh dari Belajar

Kebudayaan yang dimiliki oleh manusia juga dimiliki dengan cara belajar. Dia tidak diturunkan secara bilogis atau pewarisan melalui unsur genetis. Hal ini perlu ditegaskan untuk membedakan perilaku manusia yang digerakan oleh kebudayaan dengan perilaku mahluk lain yang tingkahlakunya digerakan oleh insting (Sanggenafa, 2002).

  1. Ciri-ciri Budaya Indonesia

Ciri-ciri budaya Indonesia (Kuntjoroningrat, 1985 dalam Gani, 2007):

1)   Nilai budaya tidak berorientasi pada karya  manusia – non achievement oriented

2)   Orientasi budaya terlalu banyak terarah pada masa lampau, sehingga melemahkan seseorang untuk melihat ke masa depan

3)   Cenderung membuat seseorang melarikan diri ke dunia kebatinan yang tak sesuai dengan jiwa rasionalisme

4)   Membuat seseorang cenderung untuk menggantungkan diri kepada nasib

5)   Cenderung menilai tinggi konsep sama rasa yang mewajibkan sikap konformisme dan tidak mendorong kemajuan,

6)   Adat sopan santun yang berorientasi ke atas, yang dapat mematikan keinginan berdiri sendiri dan berusaha sendiri.

  1. Kepribadian
    1. Pengertian Kpribadian

Dalam Buku Kata personality dalam bahasa inggris berasal dari bahasa Yunani-kuno proposon atau persona, yang artinya topeng yang biasa dipakai artis dalam teater. Para artis itu bertingkah laku sesuai dengan ekspresi topeng yang dipakainya, solah-olah topeng itu mewakili ciri kepribadian tertentu. Berikut ini beberapa contoh definisi kepribadian:

–          Menurut Stern: Kepribadian adalah kehidupan seseorang secara keseluruhan, individual, unik, usaha mencapai tujuan, kemampuannya bertahan dan membuka diri, kemampuan memperoleh pengalaman.

–          Menurut Allport: Kepribadian adalah organisasi dinamik dalam system psikofisiologik seseorang yang menentukan model penyesuaiannya yang unik dengan lingkungannya.

–          Menurut Maddy atau Burt: Kepribadian adalah seperangkat karakteristik dan kecenderungan yang stabil, yang menentukan keumuman dan perbedaan tingkah laku psikologik (berpikir, merasa dan gerakan) dari seseorang dalam waktu yang panjang yang tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai hasil dari tekanan sosial dan tekanan biologik saat itu.

–          Menurut Pares: Kepribadian adalah pola khas dari pikiran, perasaan dan tingkah laku yang membedakan orang satu dengan yang lain dan tidak berubah lintas waktu dan situasi (Alwisol, 2009).

Jadi kepribadian itu merupakan sifat umum seseorang yang terlihat dari tingkah laku seorang individu biasanya tidak mudah berubah sepanjang hayat.

  1. Struktur Kepribadian

Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni sadar (conscius), prasadar (preconscius), dan tak-sadar (unconscius). Pada tahun 1923, Freud mengenalkan tiga model struktur lain, yakni id, ego dan super ego. Struktu baru ini tidak menggantikan struktur lama, tetapi melengkapi/ menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi atau tujuannya. Enam elemen pendukung struktur kepribadian itu adalah sebagai berikut:

1)      Sadar

Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu. Menurut Freud, hanya sebagian kecil saja dari kehidupan mental (pikiran, persepsi, perasaan dan ingatan) yang masuk ke kesadaran.

2)      Prasadar

Disebut juga ingatan siap, yakni tingkat kesadaran yang menjadi jembatan antara sadar dan taksadar. Isinya berasal dari sadar dan dari taksadar. Pengalaman yang ditinggal oleh perhatian, semula disadari tetapi kemudian tak lagi dicermati, akan ditekan pindah ke daerah prasadar.  Kalau sensor sadar menangkap bahaya yang bisa timbul akibat kemunculan materi taksadar materi itu akan ditekan kembali ke ketidaksadaran. Materi taksadar yang sudah berada di daerah prasadar bisa muncul kesadaran dalam bentuk simbolik, seperti mimpi, lamunan, salah ucap, dan mekanisme pertahanan diri.

3)      Taksadar

Bagian yang paling dalam daru struktur kesadaran dan menunrut Freud merupakan bagian terpenting dari jiwa manusia. Secara khusus Freud membuktikan bahwa ketidaksadaran bukanlah abstraksi hipotetik tetapi itu adalah kenyataan empiric. Ketidaksadaran itu berisi insting, impuls dan drives yang dibawa dari lahir dan pengalaman-pengalaman traumatik yang ditekan oleh kesadaran dipindah ke daerah taksadar.

4)      Id

Id adalah system kepribadian yang asli, dibawa sejak lahir. Saat dilahirkan, id berisi semua aspek psikologis yang diturunkan, seperti insting, impuls dan drives id berada dan beroperasi dalam daerah unconscious. Mewakili subjektivitas yang tidak pernah disadari sepanjang usia dan beroperasi pada prinsip kenikmatan yaitu, berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit.

5)      Ego

Ego berkembang dari id agar orang mampu menangani realita, sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita, usaha memperoleh kepuasan yang dituntut id dengan mencegah terjadinya tegangan baru atau menunda kenikmatan sampai ditemukan objek nyata yang dapat memuaskan kebutuhan. Ego sebagai eksekutif kepribadian yang berusaha memenuhi kebutuhan id sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan berkembang mencapai kesempurnaan dari super ego.

6)      Super Ego

Super ego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakai prinsip idealistic sebagai lawan dari prinsip kepuasan id dan prinsip realistic ego. Super ego bersifat nonrasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan keras kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun baru dalam pikiran (Alwisol, 2009).

  1. Watak
    1. Pengertian Watak

Watak merupakan karakter yang telah lama dimiliki dan sampai sekarang belum berubah (Alwisol, 2009). Allport dalam Teori-teori sifat dan behavioristik menunjukkan bahwa secara tradisional kata watak mengisyaratkan norma tingkah laku tertentu atas dasar mana individu-individu atau perbuatan-perbuatannya dinilai. Watak ialah kepribadian yang dipengaruhi motivasi yang menggerakkan kemauan sehingga orang tersebut bertindak (Sunaryo, 2004).

  1. Watak yang Lemah

Watak yang lemah merupakan karakter yang kurang kuat. Manusia Indonesia kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk survive bersedia mengubah keyakinannya (Lubis, 2001).

  1. Keterkaitan Budaya dan Kepribadian terhadap watak yang lemah

Budaya adalah kepribadian suatu masyarakat: Budaya ialah psikologi individual yang dibiaskan, diberi proporsi raksasa, dan suatu masa yang begitu lama (Benedict, 1932 dalam Berry, dkk., 1999). Sehingga budaya dan kepribadian bisa memberikan kontribusi pada pembentukkan watak, baik itu watak yang kuat maupun watak yang lemah.

Setiap kebudayaan mempunyai kepribadian umum yaitu sejumlah ciri watak yang kadang-kadang secara keseluruhan dan adakalanya hanya dari sebagaian watak berada di dalam jiwa seseorang. Biasanya seseorang memiliki watak yang lemah karena budaya (baik budaya dalam keluarga maupun lingkungan) dan kepribadian. Seseorang yang kesulitan mempertahankan keinginanannya atau keyakinannya bisa jadi dikarenakan kepribadiannya terbentuk akibat budaya di sekitar yang tidak membiasakan seseorang untuk bisa mempertahankan keinginan, harapan atau keyakinannya.

BAB III

Kerangka Berpikir

Setiap kebudayaan menyediakan seperangkat norma sosial budaya yang berbeda dari masyarakat lain. Norma sosial budaya ini mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang. Perbedaan nilai dan norma kebudayaan signifikan terhadap perbedaan kepribadian. Misalnya orang yang berasal dari suku di luar Jawa akan melihat orang Jawa sebagai individu yang halus baik tuturkata maupun gerakannya. Perempuan Jawa pantang berbicara dan tertawa keras. Sedangkan orang dari suku bangsa Batak seolah-olah selalu berbicara dengan suara lantang.

Setiap manusia mempunyai keadaan fisik yang berbeda dari orang lain. Perbedaan fisik anak menimbulkan perbedaan perlakuan dari orang sekitarnya. Anak yang fisiknya lemah cenderung dilindungi secara berlebihan sehingga tumbuh menjadi pribadi yang tidak berani mencoba hal-hal baru. Bandingkan jika anak secara fisik kuat dan jarang sakit, bagaimana perlakuan yang diterimanya dari orang lain? Hal tersebut mempengaruhi anak dalam membentuk konsep diri dan akhirnya mempengaruhi model kepribadiannya. Keadaan fisik seseorang diwarisi dari ayah dan ibunya. Ketika berada dalam kandungan, perkembangan individu sangat dipengaruhi oleh asupan nutrisi dari ibu dan keadaan kejiwaan ibu. Jika asupan nutrisi dan keadaan kejiwaan ibu baik, anak akan tumbuh baik begitupun sebaliknya.

Tidak jauh dari di atas, memiliki watak yang lemah memang tidak terlepas bagaimana budaya dan kepribadian itu berperan. Mempertahankan apa yang diinginkan, dibutuhkan, diharapkan atau keyakinan memang sulit tetapi selayaknya kita bisa memperjuangkannya. Hal itu pula yang menjadi masalah pada diri saya.

Sewaktu lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) ingin meneruskan kuliah jurusan biologi (MIPA) karena penjurusan yang saya ambil sewaktu SMA adalah IPA. Tetapi ibu saya meminta agar saya kuliah mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) alasannya karena saya perempuan yang kelak pasti berumah tangga dan bisa mengurus anak dan suami,dikarenakan mengajar sekolah dasar hanya sampai setengah hari. Kemudian di lain waktu guru agama saya memanggil saya untuk membicarakan jurusan apa yang nanti akan saya ambil di perguruan tinggi, dan beliau menginstruksikan saya untuk mengambil jurusan bimbingan konseling (BK) alasannya guru bimbingan konseling masih sangat jarang dan masih banyak dibutuhkan jadi peluangnya sangat besar, tetapi pada waktu yang sama saya bilang kepada guru agama saya bahwa ibu saya menyuruh saya untuk mengambil jurusan PGSD, dan akhirnya guru agama saya menyarankan agar saya membicarakan mengenai bimbingan konseling kepada ibu saya. Setelah saya berbicara panjang lebar akhirnya ibu saya mnyetujui agar saya memilih jurusan bimbingan konseling saja karena alasan tersebut.

            Bukan tentang penjurusan saja, oleh sebab itu sampai sekarang pun saya masih mudah sekali dipengaruhi oleh orang apalagi orang tersebut merupakan orang yang berpendidikan atau orang yang lebih tua dibandingkan saya. Sehingga diagnosa yang didapat adalah saya merupakan orang yang mudah dipengaruhi dan tidak kuat pendirian  dalam hal mengenai pemilihan jurusan seperti kasus di atas.

Berdasarkan kondisi tersebut pendekatan konseling yang akan digunakan adalah pendekatan behavioral yang berlandaskan adanya faktor kognif oleh Albert Bandura. Pendekatan ini dipilih karena berdasarkan kasus di atas dapat dikatakan bahwa saya adalah orang yang mudah dipengaruhi oleh orang terdekat. Pendekatan behavioral merupakan pendekatan yang didasari oleh pandangan ilmiah tentang tingkahlaku manusia yaitu pendekatan yang sistematik dan terstruktur dalam konseling. Bandura berpandangan bahwa manusia dapat berpikir dan mengatur tingkahlakunya sendiri, manusia dan lingkungan saling mempengaruhi dan fungsi kepribadian melibatkan interaksi satu orang dengan orang lainnya. Tingkahlaku ditentukan oleh antisipasi terhadap konsekuensi.

Manusia pada dasarnya dibentuk oleh lingkungan sosial budayanya, segenap tingkah laku manusia itu dipelajari. Dengan demikian bahwa segenap tingkahlaku pada dasarnya merupakan hasil dari kekuatan-kekuatan lingkungan dan faktor-faktor genetik.

Peran dan fungsi konseling behavior berperan aktif, direktif untuk menemukan solusi dari persoalan individu. Dalam proses konseling, diri saya yang menentukan tingkahlaku apa yang akan diubah, dan saya yang sebagai konselor juga menetukan cara yang digunakan untuk mengubahnya. Selain itu saya bisa menetukkan model bagi bagi diri saya sendiri. Biasanya proses belajar terjadi melalui pengalaman langsung yang didapat melalui observasi langsung terhadap tingkahlaku orang lain. Ia Proses belajar tingkahlaku adalah imitasi, dengan demikian, seharusnya konselor adalah model yang signifikan bagi konselinya.

Teori ini menekan pada kognisi dan regulasi diri. Manusia sebagai pribadi dapat mengatur diri sendiri, dapat mempengaruhi tingkahlaku dengan mengatur lingkungan, dapat menciptakan dukungan kognitif, dan dapat melihat konsekuensi bagi tingkahlaku sendiri. Terdapat tiga proses yang dipakai untuk regulasi diri yaitu: memanipulasi eksternal, memonitor dan mengevaluasi tingkahlaku internal. Tingkahlaku merupakan hasil pengaruh resiprokal faktor eksternal dan internal. Adapun proses regulasi internal mengikuti tahapan sebagai berikut:

  • Observasi diri, yaitu saya mengobservasi diri bagaimana tingkahlaku saya,  apakah saya bisa merubah perilaku mudah terpengaruh
  • Penilaian tingkahlaku, apakah mudahnya terpengaruh itu kurang sesuai dengan stndar pribadi dan standar pribadi orang lain karena perilaku tersebut bisa berdampak negate dalam kehidupan.
  • Standar pribadi, seharusnya saya mempu mempertahankan pendapat, keinginan, kebutuhan, harapan dan keyakinan saya dalam menentukan pilihan sendiri tanpa harus selalu terpengaruh oleh orang lain
  • Respon diri, yang dilakukan berdasarkan pengamatan dan penilaian. Dalam hal ini saya mengevaluasi diri negative saya yang mudah sekali dipengaruhi orang lain. Ketika hal negative itu muncul kembali maka saya akan mengerahkan kognitif saya untuk berpikir bahwa hal itu kurang baik serta menyadarkan diri sendiri.

Sedangkan proses regulasi eksternal mengikuti dua tahap, yaitu:

  • Orangtua, teman dan yang lainnya memberikan model bagi saya untuk belajar mengevaluasi tingkahlaku yang baik dan buruk serta yang dikehendaki dan tidak dikehendaki. Kemudian, melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas, saya mengembangkan standar yang dapat dipakai untuk menilai kekuatan diri.
  • Kemudian diberikannya penguatan agar tingkahlaku yang positif saya diulangi lagi.

Tahap-tahap Konseling

Tingkahlaku laku yang bermasalah dalam konseling behavioral adalah tingkahlaku yang berlebihan dan tingkahlaku yang kurang. tingkahlaku yang berlebihan dirawat dengan menggunakan teknik konseling untuk menghilangkan atau mengurangi tingkahlaku, sedangkan tingkah laku yang kurang diterapi dengan menggunakan teknik meningkatkan tingkahlaku.

Konseling behavioral memiliki empat tahap yaitu:

–          Melakukan asesmen

Tahap ini saya mengumpulkan informasi mengenai diri saya dengan melakukan refleksi diri dan bertanya kepada orang tua dan teman mengenai diri saya. Informasi-informasi yang dimaksud dapat berupa aktivitas nyata, perasaan, pemikiran, dan nilai-nilai diri saya.

–          Menentukan tujuan, terdiri atas tiga tahap:

  • Saya mencoba memandang masalah saya atas dasar tujuan-tujuan yang ingin dicapai yaitu agar bisa tidak mudah terpengaruh dalam menentukan pilihan.
  • Selanjutnya, saya mencoba memperhatikan kemungkinan hambatan-hambatan yang akan dihadapi selama proses berlangsung.
  • Saya mencoba memecahkan tujuan kedalam sub-tujuan dan menyusun tujuan menjadi tujuan yang berurutan. Sub-tujuannya adalah sebagai berikut:
  1. Bisa mengemukakan kebutuhan diri saya secara jelas kepada orang
  2. Bisa bersikukuh memegang keyakinan saya dengan cara berbicara dengan diri sendiri
  3. Tidak mudah dipengaruhi orang lain yaitu tidak mudah ikut-ikutan apa yang dikatakan oleh orang lain.

–          Mengimplementasikan teknik

Disini saya sudah mengimplementasikan teknik konseling yang menurut saya sesuai. Teknik konseling yang saya pilih adalah penokohan atau modeling. Karena modeling ini merupakan belajar melalui observasi dengan menambahkan atau mengurangi tingkahlaku yang saya amati, sekaligus melibatkan proses kognitif saya. Jenis penokohan yang akan saya implementasikan adalah penokohan nyata yaitu saya akan mencontoh sikap teman saya yang teguh pendirian.

–          Evaluasi serta mengakhiri konseling.

yaitu evaluasi terhadap tingkahlaku saya sendiri, efektifitas dan keberhasilan saya dalam mengimplementasikan teknik penokohan.

BAB IV

Kesimpulan, Saran dan Implementasi

  1. Kesimpulan

Budaya ialah buatan manusia yang berasal dari lingkungannya dan biasanya menunjuk pada berbagai aspek kehidupan. Istilah ini meliputi cara-cara berlaku, kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu. Norma sosial dari budaya akan mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang. Jika lingkungan sosial itu mendukung ke arah yang positif maka kita akan menjadi pribadi yang berwatak kuat seperti yang diinginkan, tetapi jika kita berada di lingkungan social yang cenderung negative maka kita akan menjadi pribadi yang berwatak lemah dan mungkin tidak diinginkan, tetapi semuanya kembali pada kepribadiannya masing-masing, bagamana caranya agar hal-hal yang negative berasal dari lingkungan tidak banyak mendominasi pada pribadi kita.

  1. Prognosa

Jika masalah penulis tidak segera diatasi yaitu mudah terpengaruh dengan pendapat orang lain dalam menetukan pilihan maka kedepannya akan terus mengalami kebingungan dalam mengambil keputusan. Sebaliknya, jika masalah ini dengan sungguh-sungguh diatasi maka penulis akan bisa menetukkan pilihan sendiri, teguh pendirian, tidak “plin-plan” dan tidak harus ketergantungan dengan orang lain.

  1. Saran

Keteguhan pada keyakinan diri sangatlah penting karena hidup ini tidak selalu harus bergatung pada pendapat orang lain. Kita yang lebih tahu mengenai pribadi kita sendiri dan orang lain hanya memberikan saran dan masukkan yang tidak harus selalu kita lakukan. Oleh karena itu proses konseling diri sendiri ini memang sebaiknya perlu dilaksanakan demi kebaikan saya sendiri dan masa depan.

  1. Implementasi

Berangkat dari asumsi bahwa perilaku yang normal ataupun tidak adalah sama-sama merupakan hasil belajar, maka kontribusi terbesar dari pendekatan behavioral adalah diperkenalkannya konsep–konsep memodifikasi perilaku melalui penataan lingkungan dan kognitif, sehingga terjadi proses belajar yang tertuju kepada perubahan perilaku. Pendekatan behavioral yang memusatkan perhatian kepada perilaku yang tampak, mengindikasikan bahwa dalam pelaksanaan konseling  yang perlu diperhatikan  adalah  pentingnya konselor untuk mencermati permasalahan-permasalahan penyimpangan perilaku konseli yang ditampilkan untuk selanjutnya merumuskan secara jelas tentang perubahan-perubahan yang dikehendaki, keterampilan-keterampilan baru apa yang diharapkan dimiliki konseli dan bagaimana keterampilan tersebut bisa diterapkan pada diri sendiri. Proses berbuat yang dilakukan oleh perilaku individu atau kelompok (model) sebagai stimulus terjadinya pikiran, sikap, dan perilaku yang serupa di pihak pengamat. Melalui proses belajar dengan mengamati, saya sendiri bisa belajar untuk menunjukkan suatu perbuatan yang dikehendaki.

Asumsinya bahwa setiap orang mempunyai hak untuk mengungkapkan perasaannya, pendapat, apa yang diyakini, serta sikap. Salah satu sasaran dari teknik ini untuk meningkatkan keterampilan behavior sehingga mereka bisa menentukan pilihan apakah pada situasi tertentu perilaku mudah terpengaruh ini harus dihilangkan. Sasaran lainnya untuk mengajarkan saya untuk  mengungkapkan diri dengan cara sedemikian rupa yaitu dengan ketegasan bahwa saya mempunyai harapan dan kebutuhan sendiri yang harus diperjuangkan sehingga terefleksi kepekaannya terhadap perasaan dan hak orang lain.

Dalam mengelola diri sendiri orang akan mengambil keputusan tentang hal yang berhubungan dengan perilaku khusus yang ingin dikendalikan atau diubah. Dengan demikian konseli (saya sendiri) terpacu dengan jalan mendorong diri saya untuk menerima tanggung jawab dalam  menjalankan strategi ini dalam kehidupan.

DAFTAR PUSTAKA

Alwisol. (2009). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM

Berry, W. Jhon, dkk,. (1999). Psikologi Lintas Budaya: Riset dan Applikasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Hall, Calvin S. & Gardner Lindzey. (1993). Psikologi Kepribadian 3: Teori-teori Sifat dan Behavioristik. Yogyakarta: Kanisius

Koentjaraningrat. 2004. Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta:

Gramedia

Sunaryo. (2004). Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC

Lubis, Mochtar. (2001). Manusia Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Gani, Darwis Suharman. (2007). Kebudayaan, Pendidikan, Dan Pemberdayaan

Sumberdaya Manusia Indonesia, Jurnal Penyluhan. 3. 129-135

Sanggenafa, Naffi. (2002). Antropologi dan Konsep Kebudayaan. Jurnal Antropologi Papua. 1

2 thoughts on “Keterkaitan Budaya Dan Kepribadian Terhadap Watak Yang Lemah

  1. Ping-balik: Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta: Oasis Satwa Langka di Kota … | lazionews.info

  2. Ping-balik: Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta: Oasis Satwa Langka di Kota … | inspirasi.me

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s