Bimbingan Konseling (BK)

Pentingnya Sikap Empati Budaya
Dalam Keefektifan Konseling

Oleh:

Anies Andriyati Devi

1715097810

BK Non Reg 2009

BIMBINGAN KONSELING

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2012

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Empati budaya dalam konseling merupakan hal yang sangat penting. Mengingat proses konseling merupakan sebuah bantuan melalui interaksi antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya. Salah satu masalah yang sering muncul adalah kurangnya rasa empati dalam berkomunikasi yang bisa menyebabkan kesalahpahaman interaksi komunikasi sehingga konseli frustasi dan tidak ada manfaat yang dihasilkan dari proses konseling tersebut.

Di pihak lain, empati justru dianggap sebagai salah satu cara yang efektif dalam usaha mengenali, memahami, dan mengevaluasi orang lain karena dimungkinkan seseorang itu masuk dan menjadi sama dengan orang lain. Dengan berempati, seseorang bisa benar-benar merasakan dan menghayati orang lain termasuk bagaimana seseorang mengamati dan menghadapi masalah dan keadaannya yang susai dengan budayanya.

Kehidupan konseli merupakan rahasia yang sulit untuk ditembus. Bahkan keadaannya begitu berlapis. Konseli yang kita hadapi sering tampil hanya dipermalukan saja, dan jarang menampilkan dunia dalam mereka. Kecuali terhadap orang yang sangat dipercayai. Orang yang dipercayai oleh konseli adalah yang memahami dan dapat merasakan perasaan, pengalaman, serta pikiran klien. Konselor yang empati mudah memasuki ”dunia dalam” konseli sehingga konseli tersentuh dengan sikap konselor.

Sebagai calon konselor harus dilatih agar peka terhadap perasaan konseli, memahami pikirannya, dan mampu merasakan perasaan dan pengalaman klien. Untuk mencapai hal tersebut maka dilatihkan teknik empati. Latihan tersebut mencakup ungkapan perasaan konselor mengenai perasaan, pengalaman dan pikiran.

Setiap budaya pasti memiliki adat yang berbeda yang akan membentuk kebiasaaan seseorang dalam bersikap. Ketika konselor dan konseli bertemu dalam proses konseling hendaknya konselor terlebih dahulu memahami latar buadayanya.

Misalnya masalah dalam komunikasi antarbudaya terjadi bila produsen pesan adalah anggota suatu budaya dan penerima pesannya adalah anggota budaya yang lainnya (konselor-konseli). Dengan keadaan demikian konselor bisa saja dihadapkan kepada masalah yang ada dalam situasi di mana suatu pesan dipahami dengan cara yang berbeda sesuai dengan budaya yang lain. Oleh karena itu konselor harus menerapkan empati budaya agar proses konseling bisa terlaksana dengan baik.

  1. Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, berikut adalah masalah yang akan dibahas: “pentingnya sikap empati budaya yang bisa mempengaruhi pada keefektifan konseling”.

  1. Tujuan Penulisan

  1. Untuk memenuhi tugas akhir sebagai prasyarat kelulusan mata kuliah Kajian Sosial Budaya.

  2. Untuk membangun sikap dan pemahaman empati terhadap multicultural

  3. Memahami permasalahan multicultural

  4. Agar mampu mengaplikasikan sikap empati multicultural dalam proses konseling

  1. Prosedur Pemecahan Masalah

Empati budaya merupakan kemampuan konselor untuk memahami permasalahan konseli, melihat melalui sudut pandang konseli dan latar belakang budayanya, peka terhadap perasaan-perasaan konseli, sehingga konselor mengetahui bagaimana konseli merasakan perasaanya. Dalam hal ini konselor diharapkan dapat memahami permasalahan konseli tidak hanya pada permukaan, tetapi lebih dalam pada kondisi psikologis konseli. Jika ketiga kondisi diatas dapat dimunculkan oleh konselor sebagai kualitas dalam hubungan teurapeutik, dengan demikian, dapat diprediksikan aktivitas yang akan dialami konseli dalam konseling adalah menjajaki perasaan dan sikapnya secara mendalam (Komalasari, dkk., 2011).

BAB II

Kajian Teori

  1. Konsep Budaya

Budaya adalah keseluruhan system gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dimiliki manusia dengan belajar (Sutardi, 2007). Herkovits mengatakan, budaya ialah bagian buatan manusia yang berasal dari lingkungan manusia (Berry, dkk., 1999).

Schutz mengemukakan bahwa setiap orang memiliki suatu system pengetahuan dari budayanya berupa realitas yang tak pernah dipersoalkan lagi. Realitas ini menyediakan skema interpretative bagi seseorang untuk menafsirkan tindakannya dan tindakan orang lain. System makna kultural antara lain merupakan aturan budaya dan tema nilai. Aturan budaya memiliki tiga ciri. Pertama, aturan adalah proporsisi-proporsisi yang membimbing tindakan. Aturan itu memberi resep budaya bagi tindakan. Jelasnya, ia memberitahu kita apa yang harus kita lakukan dan bagaimana melakukannya untuk memperoleh hasil yang kita inginkan. Kedua, aturan menyediakan seperangkat harapan. Ia membertahu kita apa yang kita harapkan dari orang lain. Ketiga, ia member kita makna. Makna suatu tindakan diduga dari aturan yang diterapkan. Tanpa pengetahuan tentang aturan, kita tidak akan dapat memahami maksud dan makna suatu tindakan. Keragaman budaya merupakan potensi bagi pengembangan budaya nasional yang memiliki keunikan dan sekaligus menyiratkan kekhasan masing-masing budaya di setiap daerah. Akan tetapi, di sisi lain, orang dihadapkan pada bernagai ancaman, seperti pergolakan, pertentangan etnik, pluralism budaya, atau dominasi budaya (Sutardi, 2007)

  1. Konsep empati budaya dalam keefektifan konseling

Suatu cross cutting affiliation, biasanya akan menghasilkan cross cutting loyalities. Cross cutting loyalities adalah terbentuknya loyalitas pada hubungan silang budaya yang sudah terbentuk, oleh karena itu, sampai pada suatu tingkat tertentu, masyarakat Indonesia telah terintegrasi meskipun tumbuhnya bangsa, agama, daerah dan pelapisan sosial. Toleransi dan empati akan membawa pemahaman mengenai berbagai perbedaan yang menjadi sumber daya yang tak ternilai. Secara sederhana toleransi dapat diasah dengan memahami berbagai perbedaan persepsi. Perbedaan persepsi budaya terhadap suatu hal, jika tidak disikapi dengan bijaksana, dapat berbuah menjadi perselisihan. Perselisihan cenderung membagi dua belah pihak dalam dua kutub yang berseberangan. Bahkan, secara ekstrim, hubungan dapat meruncing sebagai kawan dan lawan. Tingkat toleransi menetukan tingkat penerimaan seseorang terhadap perbedaan dan perselisihan yang mungkin muncul (Sutardi, 2007).

Menurut Sutardi (2007), pengertian empati dapat dianggap kelanjutan dari toleransi. Empati dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain oleh seorang individu atau suatu kelompok masyarakat. Budaya orang lain menjadi landasan bersikap dalam setiap interaksi yang terjalin. Empati berpotensi untuk mengubah perbedaan menjadi saling memahami dan mengerti secara mendalam.

Sikap toleransi dan empati dapat diwujudkan dengan memahami bahwa keanekaragaman budaya membutuhkan penguatan budaya local di tengah budaya lain yang sama-sama bertahan. Keanekaragaman budaya telah menjadi kenyataan sejarah yang mungkin tidak dapat dihindari. Mengabaikan keanekaragaman sama halnya dengan mengingkari hakikat manusia. Akan tetapi seringkali keragaman ras, suku dan budaya menjadi sumber konflikdan ketegangan. Bahkan, beberapa suku bangsa memandang suku bangsa lain lebih rendah dari suku bangsanya sendiri. Disinilah peran dari sikap konselor yang seharusnya dapat bertoleransi dan berempati untuk member kesempatan perbedaan menjadi tumbuh dan berkembang dalam kebebasan yang setara khususnya dalam proses konseling konseli merasa dipahami dan lebih leluasa untuk mencurahkan permasalahannya (Sutardi, 2007).

Setelah memaparkan deskripsi mengenai budaya dan empati, selanjutnya akan dibahas mengenai empati budaya secra inklusif. Empati budaya inklusif  (Inclusive Cultur Empathy) menjelaskan perspektif dinamis yang menyeimbangkan persamaan dan perbedaan pada saat yang sama yaitu mengintegrasikan keterampilan yang dikembangkan untuk membina pemahaman yang komprehensif dan mendalam mengenai hubungan konseling dalam konteks budayanya, ICE memiliki dua fitur terdefinisi:

  1. Budaya didefinisikan secara luas untuk mencakup guru budaya dari etnografi klien (etnis dan kebangsaan), demografis (umur, jenis kelamin, gaya hidup, tempat tinggal), status (social, pendidikan, ekonomi) dan latar belakang afiliasi (formal atau informal).

  2. Hubungan konseling empatik menghargai berbagai perbedaandan persamaan atau fitur positif dan negatif sebagai kontribusi terhadap kualitas hubungan dalam keseimbangan dinamis (Pedersen, dkk., 2008).

  1. Hambatan-Hambatan dalam empati budaya

Menurut Zhu (2011), empati antar budaya tidak berarti menyingkirkan budaya asli seseorang, tetapi medrasionalkan pemahaman dan penerimaan terhadap perbedaan budaya yang ditunjukkan kepada target budaya tertentu. Berdasarkan pemahaman tersebut, kita bisa mengasumsikan beberapa penyebab utama yang terlibat dalam proses budidaya empati antarbudaya:

  1. Tidak adanya kesadaran dari target budaya tertentu, dan kurangnya kontak dengan orang dari budaya itu

  2. Terlalu menekankan universalitas budaya, tetapi mengabaikan perbedaan antara mereka

  3. Perbedaan dalam pola berpikir masyarakat dan transfer negatif mereka ke dalam budaya sasaran ketika belajar bahasa sasaran

  4. Adanya kesembarangan penerapan adat budaya mereka dengan budaya target.

Untuk lebih spesifik, faktor-faktor berikut memberikan kontribusi terhadap hambatan empati antar budaya.

    1. Stereotip

Stereotip adalah hasil dari interaksi budaya dan misperception. Persepsi kelompok dibentuk oleh sistem nilai pribadi mereka melalui skema kognitinya. Positif stereotip, seperti “cerdas” dan “ambisius,” dan stereotip negatif, seperti “terbelakang” dan “malas”, menandakan keanggotaan dalam kelompok sosial tertentu dan memungkinkan individu untuk secara kognitif memilah-milah banyak informasi berdasarkan fitur yang menonjol pada diri mereka. Meskipun stereotip tidak boleh diterapkan untuk menggambarkan perilaku individu (harus diterapkan pada norma perilaku untuk seluruh kelompok. Sebagai contoh, dalam masyarakat Amerika, memandang suatu stereotip tentang Cina bahwa mereka itu memiliki kecerdasan unggul di bidang matematika dan ilmu pengetahuan. Stereotip ini diperkuat dalam laporan berita bahwa siswa Cina-Amerika memiliki skor lebih tinggi pada ujian matematika. Stereotip memberikan kami harapan peran, yaitu bagaimana kita mengharapkan orang lain atau kelompok untuk berhubungan dengan kita dan untuk orang lain. “Budaya kita memiliki ratusan siap pakai stereotip, seperti: pemimpin yang dominan, pria sombong; ibu rumah tangga yang bagus tapi berkepala kosong; Pria Perancis adalah pria romantis; Germanys yang ketat; Amerika kausal; Jepang adalah pekerja keras dan lain-lain. Tentu saja, kadang-kadang seorang pemimpin atau ibu rumah tangga atau Jerman agak seperti stereotip tetapi merupakan ketidakadilan untuk secara otomatis menganggap mereka semua. Bahkan, ketika orang berstereotip, mereka cenderung memperkuat perilaku tertentu yang dilakukan oleh kelompok tertentu tetapi mengabaikan banyak kesamaan.

    1. Prasangka

Prasangka adalah penilaian prematur atau sikap negatif terhadap seseorang atau sekelompok orang yang tidak didasarkan pada fakta.  Biasanya didasarkan pada stereotip yang disederhanakan dan lebih umum pandangan kelompok atau jenis orang (Tucker-Ladd, Clayton E.). Prasangka yang mungkin didasarkan pada emosional atau stereotip pribadi mereka sendiri. Sebagai contoh, di mata sebagian orang Amerika, Hispanik adalah pemalas. Beberapa orang Amerika juga menggambarkan terutama kulit hitam sebagai anggota geng dan pengedar narkoba dan ini diperkuat sebagai stereotip. Ketika kita berprasangka, kita melanggar tiga standar: alasan, keadilan, dan toleransi. Orang berprasangka mungkin menjadi korban kesalahan dalam pengolahan dan mengingat informasi mengenai obyek-obyek perasaan negatif mereka.

    1. Kurangnya kepekaan budaya

Sensitivitas lintas budaya adalah kualitas menyadari dan menerima budaya lain. Seseorang yang tidak secara budaya sensitif dipidana dengan mengabaikan perbedaan antara budaya mereka dan orang lain, dan sebagai akibatnya, kebodohan dapat mempengaruhi hubungan mereka dan cara mereka berkomunikasi satu sama lain. Misalnya, ada Perusahaan Amerika yang memproduksi bola golf bola dikemas dalam kemasan empat. Mereka sukses dan mulai menjual secara internasional. Namun kinerja penjualan mereka tidak berhasil di Jepang, di mana jumlah empat memegang makna kematian. 

Sensitivitas budaya tidak berarti bahwa seseorang hanya perlu menyadari perbedaan untuk berinteraksi efektif dengan orang dari budaya lain. Melainkan menyadari bahwa perbedaan budaya dan persamaan ada dan memiliki efek pada nilai-nilai, pembelajaran dan perilaku. Kurangnya kepekaan budaya disebabkan oleh faktor-faktor berikut:

  • Ketidaktahuan perbedaan dalam pola pikir

Budaya yang berbeda melahirkan pola pikir yang berbeda. Berdasarkan sistem logika Yunani, barat pola berpikirnya cukup berbeda dengan Cina.  Orang Barat cenderung “analitik” (dimulai dengan bagian-bagian terpisah) yang bertentangan dengan kecenderungan Cina “global”. Selain itu, dalam budaya barat, “to do point” adalah hal yang dianggap sebagai cara yang dapat diterima dalam komunikasi, sedangkan di budaya Cina, yang implisit lebih dihargai.

  • Ketidaktahuan perbedaan nilai, norma dan keyakinan

Sistem yang mencakup nilai, norma dan keyakinan membentuk perilaku dari anggota suatu budaya. Sistem ini memiliki karakteristik yang unik, abadi, dan relatif stabil. Jika komunikator antar budaya tidak mengetahui atau menyadari adanya sistem ini, mereka akan merasa sulit untuk menjadi empatik. Misalnya, dalam budaya Inggris, hewan dan manusia memiliki perasaan, sakit, dan dimakamkan di pemakaman. Namun, dalam budaya Cina, perbedaan antara manusia dan hewan yang besar. Contoh lain yang mirip adalah tentang kepercayaan masyarakat terhadap angka. Di Cina angka “4” (terkait dengan “kematian” menurut Cina) tapi dianggap beruntung dalam banyak cara yang sama oleh orang barat. Karena ketidaktahuan perbedaan dalam nilai, norma dan keyakinan, Orang sering terkejut atau bahkan terkejut ketika belajar ke temapat Negara-negara yang dikunjungi dan sangat terlihat perbedaanya dengan apa yang mereka antisipasi.

BAB III

Kesimpulan dan Implikasi

  1. Kesimpulan

Empati budaya merupakan kemampuan konselor untuk memahami permasalahan konseli, melihat melalui sudut pandang konseli dan latar belakang budayanya, peka terhadap perasaan-perasaan konseli, sehingga konselor mengetahui bagaimana konseli merasakan perasaanya. Empati budaya dalam konseling merupakan hal yang sangat penting. Mengingat proses konseling merupakan sebuah bantuan melalui interaksi antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya.

Budaya sendiri adalah keseluruhan system gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dimiliki manusia dengan belajar. Selain itu, empati dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain oleh seorang individu atau suatu kelompok masyarakat. Empati berpotensi untuk mengubah perbedaan menjadi saling memahami dan mengerti secara mendalam.

Empati budaya inklusif  (Inclusive Cultur Empathy) menjelaskan perspektif dinamis yang menyeimbangkan persamaan dan perbedaan pada saat yang sama yaitu mengintegrasikan keterampilan yang dikembangkan untuk membina pemahaman yang komprehensif dan mendalam mengenai hubungan konseling dalam konteks budayanya,

Hambatan-Hambatan yang akan ditemui dalam berempati adalah Tidak adanya kesadaran dari target budaya tertentu, dan kurangnya kontak dengan orang dari budaya itu, terlalu menekankan universalitas budaya, tetapi mengabaikan perbedaan antara mereka, perbedaan dalam pola berpikir masyarakat dan transfer negatif mereka ke dalam budaya sasaran ketika belajar bahasa sasaran, adanya kesembarangan penerapan adat budaya mereka dengan budaya target.

  1. Implikasi

Pendidikan dan pelatihan konselor yang benar dan berhasil tidak sekedar membekali para pesertanya dengan kepiawaian akademik yang mungkin membantu meningkatkan empati kognitif mereka, melainkan juga mengoreksi dan memperbaiki defisiensi empati peserta, serta merawat dalam kerangka menumbuh-kembangkan kemampuan empati emosional para pesertanya (Trusty, dkk., 2005).

Menurut Trusty, dkk., (2005), pada perspektif empati multikultural yang semakin diperlukan di tengah pendidikan, pelatihan, penelitian dan praktik konseling masa kini, pendidikan-pelatihan konselor perlu mengusahakan berbagai upaya di antaranya: 

  1. Pencurahan pengalaman emosional (attunement) hari demi hari.

  2. Praktik pendisiplinan yang berpretensi mengajak individu memahami penderitaan psikologis orang lain serta.

  3. Penampakan berulang teladan tanggapan empatik yang tepat terhadap orang lain yang memerlukan

Ketiga upaya pokok diatas itu perlu ditumbuh-kembangkan dalam iklim relasi pada setiap pendidkan-pelatihan para calon konselor agar iklim relasi ini dapat berperan korektif terhadap kemungkinan defisiensi empati pada para calon konselor serta berperan menumbuhkembangkan kemampuan empati setiap calon konselor.

Empati budaya sangat dibutuhkan dalam relasi terapeutik. Iklim terapi yang diwarnai empati menjadi syarat utama yang akan memberi efek mendukung bagi tumbuhnya konsep diri positif pada klien atau konseli, sehingga konseli dapat mengatasi persoalannya sendiri. Lebih lanjut dapat diungkapkan bahwa mengingat pentingnya kemampuan empati dalam hubungan antar manusia, maka upaya melatih dan mengembangkan empati di keluarga-keluarga, sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya perlu dilakukan sedini mungkin. 

Hal yang juga penting diungkap dalam konteks peningkatan mutu empati budaya seseorang adalah berlatih menampakkan ekspresi-ekspresi atau isyarat-isyarat non-verbal yang membuat orang lain merasa dimengerti dan diterima, karena kemampuan empati terutama melibatkan kemampuan seseorang untuk membaca perasaan lewat pemahaman terhadap isyarat-isyarat nonverbal orang lain. Pemahaman seperti ini membuat hubungan antar individu terjalin dengan baik. Dalam kepustakaan konseling ditegaskan tentang keefektifan konseling (counseling effectiveness) lebih ditentukan dari kecakapan konselor. Oleh karena itu, peran empati budaya cukup esensial yang diakui dalam konseling, sehingga empati yang diwujud nyatakan dalam praktik konseling selama ini merupakan suatu keniscayaan untuk ditumbuh-kembangkan secara sistemis di dunia pendidikan dan kehidupan masyarakat kita.

Budaya empati adalah kemampuan penting untuk mengatasi masalah antar budaya secara memadai, efektif dan memuaskan. Melalui pembahasan sebelumnya, kita dapat menyimpulkan dengan aman bahwa komunikasi diinginkan tergantung pada interaksi dari banyak faktor dan mungkin berakhir dengan kegagalan karena stereotip kita, prasangka dan kurangnya budaya sensitivitas. Komunikasi yang efektif dapat ditingkatkan ketika empati disampaikan dan kemampuan dalam antarbudaya empati dapat dikembangkan dengan secara konsisten mencoba untuk menempatkan kaki Anda pada posisi orang lain. Untuk mencapai tujuan ini, saran berikut mungkin bisa membantu:

  1. Jadilah gigih dalam menjaga komunikasi terbuka. Jika terjadi miskomunikasi, melihatnya sebagai masalah yang harus diselesaikan dan kesempatan untuk menemukan cara untuk berkomunikasi.

  2. Peka terhadap fakta bahwa ada perbedaan mendasar dalam cara orang berkomunikasi budaya yang berbeda, seperti melalui penggunaan yang berbeda dari kata-kata, suara dan bahasa tubuh. Bersedia untuk nilai dan mengenali pentingnya budaya sendiri dan bersedia untuk belajar tentang tradisi dan karakteristik budaya lain.

  3. Bersikaplah jujur dan mau mengambil risiko, melakukan kesalahan dan fleksibel dalam gaya komunikasi Anda.

  4. Pikirkan dan memeriksa dasar budaya dari sistem keyakinan Anda sendiri ketika mencoba ketika mencoba untuk memahami budaya orang lain. Menjadi budaya empati berarti tidak menghakimi dan mengakui bahwa meskipun perbedaan yang mungkin ada berdasarkan budaya, komunikasi masih dapat melanjutkan.

  5. Ambil minat aktif dalam budaya dan norma orang lain. Sebuah kemauan untuk beradaptasi komunikasi seseorang dan perilaku agar kompatibel dengan norma-norma budaya lain. Semakin banyak Anda tahu tentang budaya tertentu, semakin baik kesempatan untuk komunikasi yang efektif. Selain itu, keterbukaan, hormat peduli dan saling martabat individu kualitas penting untuk empati antarbudaya tanpa memandang perbedaan budaya (Trusty, dkk., 2005).

DAFTAR PUSTAKA

Pedersen, P.B., Hugh, C.C., and Carlson, J. (2008). Inclusive Cultural Empathy: Making Relationships Central in Counseling and Psychotherapy. USA: American Psychological Association.

Berry, W. Jhon, dkk,. (1999). Psikologi Lintas Budaya: Riset dan Applikasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Mulyana, Deddy, and Rakhmat, Jalaluddin. (2003). Komunikasi Antar Budaya. Bandung: Rosda

Sutardi, Tedy. (2007). Antropologi Mengungkap Keragaman Budaya. Bandung: PT. Setia Purna Inves

Clark, Arthur J. (2010). Empathy: An Integral Model in the CounselingProcess. USA: American Counseling Association

Komalasari, dkk. (2011). Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: Indeks

Zhu, Honglin. (2011). From Intercultural Awareness to Intercultural Empathy. Journal English Language Teaching. 4. 116-119

Trusty, J, dkk. (2005). Model of effects of adult attachment on emotional empathy of counseling students. Journal of Counseling and Development. 83. 66-77

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s